.
BGM: Shiina Ringo - "Yami ni Furu Ame"
Mood: *tired* *insightful* *snobbish*
.
Sudahkah anda memforward e-mail berantai hari ini? Atau buat yang tidak punya kebiasaan semacam itu, sudah berapa e-mail berantai yang ada di inbox anda hari ini? God, how I hate those more than spam, karena sampai sekarang belum ditemukan metode filter e-mail yang bisa menyaring kebodohan (atau lebih tepatnya, kemalasan untuk mencari tahu atawa ignorance) semacam itu. Yang saya maksud dengan e-mail berantai di atas adalah e-mail yang biasanya berisi hal-hal berikut:
.
- pesan religius
- petuah hidup (lebih sering sih tentang cinta dan persahabatan *pukes*)
- ramalan-ramalan mengenai kepribadian atau yang semacamnya
- jokes dan tebak2an (entah saya yang tahu terlalu banyak, tapi biasanya sudah basi atau garing)
- peringatan-peringatan tentang sesuatu yang penting atau berbahaya (the so-called fact? Hah, BS! ini yang parah dan akan dibahas lebih lanjut)
- dan, this one is downright stupid so I won’t elaborate it further, pesan dari hantu gentayangan yang sudah meninggal dan haus darah –;
.
Dan hal yang tak terpisahkan dari e-mail berantai adalah dorongannya untuk menyebarluaskan e-mail itu ke sebanyak mungkin orang, baik dengan pendekatan konsekuensi moral (demi kebaikan/keselamatan orang banyak), atau dengan konsekuensi irasional (bakal sial 7 turunan, atau mati jam 12 malem –;).
.
Sebenarnya untuk isi yang pertama, kedua, dan ketiga, (I’ll quickly diss the fourth and the last one :p) saya tidak terlalu berkeberatan selama isinya dilihat sebagai hal yang inspirasional atau motivasional setelah dikritisi dengan skeptisisme yang sehat. The problem is, ada banyak orang bodoh di belantara wired sana yang mencampurkan hal-hal yang seolah-olah bersifat real-faktual dalam e-mail berantainya, dan bahkan lebih banyak orang bodoh lagi yang tanpa pikir panjang langsung menerima e-mail berantai semacam itu sebagai kebenaran yang sejelas malam tak berbintang. Dan diantara 5 penghuni tetap e-mail berantai itu, pelanggar paling sukses terhadap manipulasi kebenaran ini adalah nomor 5 yang akan mendapat porsi paragrafnya sendiri:
.
Apakah anda takut menggunakan sumpit sekali pakai? Nggak mau dugem karena takut dicekoki Progesterex? Nggak mau buang air di kloset duduk karena takut digigit laba-laba dari balik dudukannya? Cemas di Puncak karena takut dikibulin ama orang2 bengkel pinggir jalan? Nggak mau makan di KFC karena yang disajikan bukan ayam? (I can write the whole list till hell freeze over) Jika anda pernah menganggap salah satu hal di atas benar begitu saja tanpa mengecek dulu fakta-faktanya, maka selamat datang di dunia urban legend dan (mostly) hoax, dan anda adalah salah satu dari sekian banyak korbannya. Tidak, saya tidak akan bilang anda bodoh. Yang jelas siapapun yang memulai trend ini telah membuat asumsi karakteristik korbannya dengan keakuratan yang mengerikan, entah dengan cara bagaimana. Ditambah lagi dengan presentasi yang berbau serius seperti berita media massa, fakta-fakta yang masuk akal secara common sense (tapi biasanya tidak secara ilmiah), dan ditempeli nama-nama ilmuwan, universitas, dan pihak otoritas yang meyakinkan namun sebenarnya fiktif, maka pupus sudah skeptisisme seorang awam untuk membangkitkan sedikit saja keraguan.
.
Dan seolah kemanusiaan belum mencapai batas terendahnya, hal yang paling menyedihkan adalah bahwa fenomena ini diteliti pada tahun 1997 oleh Nathan Zohner, seorang pelajar kelas 9 (3 SMP) di Idaho untuk sebuah science fair. Alkisah, dalam penelitiannya Zohner mempresentasikan bahaya suatu zat bernama "Dihidrogen Monoksida" dan bagaimana pemerintah dan industri terus menggunakannya kepada 50 teman seangkatannya. Ketika ditanya pendapat mereka, apakah zat yang ‘berbahaya’ seperti itu harus dilarang penggunaannya atau tidak, jawabannya adalah:
.
- 43 orang mendukung pelarangannya,
- 6 orang tidak yakin,
- dan hanya 1 orang yang sadar kalau zat yang dimaksud tak lain dan tak bukan adalah nama lain untuk ‘H2O’, alias air.
.
Dandengan penelitian semacam itu Zohner merebut juara pertama dan menjadi selebritis dadakan. Tentu saja, dengan menggunakan kekritisan dan skeptisisme yang sama kita bisa lihat bahwa faktor peer-pressure juga berperan dalam pengambilan keputusan kelimapuluh anak itu, tapi Zohner tetap membuktikan suatu poin: bahwa betapa ignorant, tidak kritis, dan gampang ditipunya orang awam ketika menghadapi suatu pesan yang mereka (atau oleh masyarakat/orang lain yang ‘di atas mereka’ kedudukannya) persepsikan sebagai ilmiah entah karena cara penyampaiannya, penampilan ‘fakta-fakta’ dan ’statistik’, atau dukungan dari nama dan institut yang terlihat kompeten. Ironis ya bahwa ketidakkritisan mereka adalah antitesis dari ’science’ yang mereka agung-agungkan sendiri?
.
(merasa tulisannya sudah ngalor-ngidul dan kehilangan arah) Jadi apa poin dari tulisan kali ini? (udah terlalu capek fisik-mental untuk mengelaborasi lebih jauh) Pertama, telitilah tiap e-mail berantai yang anda dapat (terutama yang dari jenis kelima tadi) dengan kritis dan skeptisisme yang sehat. Kedua, jika tahu itu nggak benar (atau nggak berguna) buat yang akan diforward, JANGAN DIFORWARD. You’re just going to annoy people like us (dan menjerumuskan orang ignorant dan uncritical lainnya ke jurang kebodohan). Tapi kalau memang niatnya begitu untuk bikin Darwin Award sendiri sih ya terserah… >_>
.