Dan Aku Mulai Belajar Percaya
.
BGM: Mew - "Small Ambulances"
Mood: *tired* *indifferent* *serene*
.
Gw sering ndenger, atau baca, cerita-cerita motivasional. Cerita-cerita yang biasanya beredar via e-mail berantai, via buku-buku pengembangan diri, renungan religius, dan media lainnya. Sebagian besar biasanya sudah nggak lolos seleksi duluan dari proses kognitif. Cuma sedikit yang bisa diteruskan ke proses afektif (atau dalam bahasa awamnya, ‘menyentuh hati’…bah, apa itu cuma gara2 gw-nya aja yang emotionally deprived & insensitive? –;) Dan lebih sedikit lagi yang bisa sampai ke proses spiritual gw. Ladies and gentlemen (and Atied ^^), I present you this beautiful story. Of course it’ll be Christian-centered, but heretics and unbelievers should also enjoy it for its literary merit…
.
Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat: seorang hakim yang mencatat kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambarnya, tetapi aku tidak mengenalNya.
.
Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.
.
Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak itu hidupku berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi dan biasanya, hal itu tidak berlangsung lama. Tetapi saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya padaNya. Terkadang rasanya seperti sesuatu yang ‘gila’, tetapi Ia berkata, "Ayo, kayuh terus pedalnya!"
.
Aku takut, khawatir, dan bertanya, aku mau dibawa ke mana? Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki petualangan baru yang mencengangkan. Dan ketika aku berkata, "Aku takut!" Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku.
.
Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan dan mereka membantu menyembuhkan aku. Mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan dan perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami.
.
Kemudian Yesus berkata, "Berikanlah hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya, jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita!" Maka, aku pun melakukannya. Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.
.
Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya. Aku takut. Ia menjadikan hidupku berantakan, tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam. Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi. Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat dan melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar untuk diam, sementara terus mengayuh dan menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia, yaitu Yesus Kristus.
.
Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Yesus akan tersenyum dan berkata: "Mengayuhlah terus, Aku bersamamu."
.