Winter Break pt. 3: Price of Privacy
Wednesday, January 25th, 2006.
BGM: Straightener - "Dive"
Mood: *desperate* *confused* *optimistic*
.
Kadang…nggak ding, seringkali gw nggak tahu apa yang mesti ditulis di blog. Bukan, bukan gara-gara kehabisan tema. Memang hidup sehari-hari bisa cukup membosankan dengan ritme yang begitu-begitu saja: kampus, mall (ini juga jarang), rumah (apalagi kalau libur, ya biasanya cuma ini aja)…lalu ya sudah, nggak kepikiran tuh pergi2 ke tempat yang aneh-aneh atau bikin aktivitas yang macem-macem. Tapi itu nggak masalah, karena sejak awal bikin blog tiga tahunan yang lalu memang tujuannya bukan buat diary (catatan pengalaman), tapi jurnal (how you think, feel, and react to those experiences). Berhubung gw orangnya seperti ini (males nyebut atribut diri, ntar dibilang nyombong :p), mestinya nggak masalah tho menuangkan segala sesuatunya dalam bentuk tulisan? Nah, di situlah masalahnya berawal. Mungkin sekedar menuangkan sih nggak masalah, tapi mempublikasikannya di blog? Tunggu dulu.
.
Nggak tahu sejak kapan mulainya, tapi kayaknya belakangan ini selalu ada pikiran tambahan yang mengganjal. How do others (the readers) think, feel, and react to my thoughts, feelings, and reactions? Apalagi sejak semua orang mulai melek blog, dan orang-orang yang biasanya jadi objek jurnal yang nggak tahu apa-apapun kini bisa menjadi di ‘atas’ sang subjek; they can read it and give their own judgement. Itu masih belum menjadi masalah; ia menjadi masalah yang semakin mengganjal motivasi gw menulis blog ketika judgement itu mereka laksanakan di dunia nyata (padahal gw sendiri menganut, apapun yang di wired tetaplah di wired…well, except love ^^). Ndre, aku baru baca blogmu. Kamu kenapa sih? Kalo ada masalah, cerita dong. Duh, kalo bisa gw ceritain ya nggak usah ditulis di blog lah –;. Itu juga masih mending. Dengan gaya tulisan (nggak cuma tulisan sih, tapi memang ekspresi umum) yang sinis atau sarkastik, gw nggak yakin orang yang jadi objek jurnal bisa tetap mempertahankan sikapnya ke gw seperti sebelum ia membaca jurnalnya. Lalu yang menjadi masalah lagi adalah kegiatan yang paling gw benci: menggosip. Sering juga gw emoh menulis jurnal tentang fenomena yang dihadapi orang tertentu karena…kok jadinya seperti menggosip ya (with their speculation and theories)? –;. And the darnest thing of all, entah ini kegeeran atau nggak, I’m sure those personal (not to call it ‘intimate’) recollection of thoughts bakal jadi bahan empuk buat gosip. Eh lu tau nggak, si Andreas itu sebenernya blablabla lho, gw baca di blognya kemaren. #Eh masa sih Jeng? Gak nyangka ya. Padahal gw kira dia blablabla…*sigh*. Okay, maybe that’s a little bit overboarded, but you get the point. So let me state this one more time: I EFFIN’ HATE THAT. Apa terlalu paranoid ya?
.
Yah, jadi begitulah yang membuat gw kadang2 gak tau mau nulis apa yang pantes ditulis di blog. Mau nulis jurnal, ntar pasti (liat alesan2 di atas). Mau nulis diari? Bah, males banget. Ke depannya enaknya bagaimana ya? Masa mau nulis jurnal dalam bentuk bahasa2 cryptic? Someone out there gak bakal suka dengan cara ini dan bakal ‘meneror’ gw; Ndre, artinya apa sih? Maksudnya apaan? Sama juga boong gw susah2 nulis –;. Okay, mungkin memang agak sedikit oxymoron untuk meletakkan sesuatu yang privat dan indecipherable di tempat publik untuk konsumsi publik, tapi ya itu hak individu pengarang untuk menuliskannya dan hak individu pembaca untuk (tidak) membacanya kan? Ini juga nih bibit2 gosip, selalu mau tahu urusan orang –; (atau apa emang gw yang terlalu cuek?) Lha tapi kalau orangnya nggak mau ngasih tahu gimana? Nyu, udah ah capek >_<. Hope I can write an entry again sooner.
.
Setelah diliat2 ke atas lagi gimana bentuknya kalo gaya nulis yg asli (dalam artian belum dipoles) keluar…wow, am I THAT immature? ^^;
.