Archive for December, 2005

Winter Break pt. 2: Random Distractors -a fragment-

Thursday, December 29th, 2005

.
BGM: *randomly shuffled*
Mood: *the same as previous post times two*

.
*sigh* Baru aja udah mau niat-niatin nulis, hal-hal yang bikin mood (or more precisely (and psychologically-sound), motivasi) turun udah bermunculan >_<. Well, at least now I’m more aware of their presence, and hopefully can anticipate them in advance instead of blindly blaming other factors or persons. Hal yang pertama adalah…capek. Yes, I know it’s sometimes obvious for other people, but for me writing (and it’s complementary activity: reading) is a serious, mental-resource-hog business -even when I’m writing as petty as a blog’s entry like this- sehingga nggak ada excuse untuk ‘menulislah di waktu luang’, since my writing activity is incompatible with the definition of ‘relaxing’. Kemarin sih rencananya setelah selesai UAS Psikologi Konsumen jam 12 (yang ternyata lumayan gampang (dengan confidence rate 60-70%)) mau langsung pulang sehingga sempet istirahat bentar sebelum ngeblog (dan masih punya waktu untuk belajar Pelatihan I. But guess what? Our INfamous Mrs. Cruella de Vil (nama disamarkan untuk menghindari tuntutan hukum, which is likely she’ll do) nyuruh dateng lagi jam 2 buat presentasi kelompok. Dan coba tebak siapa yang nggak dateng pas harinya presentasi? –; *shakes fist in desperation* Tentu saja, biar nggak cepet mati gara2 marah terus, I did my usual reaction-formation defense: ketawa. Ngetawain (sekaligus ngasihanin) Mrs. Cruella and everything disastrous she has brought to our class. Tapi apapun reaksinya, badan tetep aja capek ketika presentasi baru selesai jam 4 dan baru sampe rumah jam 6. And, to end yesterday’s story, akhirnya cuma sempet bener2 baca 4 atau 5 dari 9 bab yang harus dibaca buat UAS Pelatihan I besok sebelum ketiduran di kasur jam 9…>_>
.
So, what’s today’s story? And where the heck is the second still unmentioned ‘thing’? Let’s start with the first: it’s good, yet much, much worse –;. Paginya terpaksa ngebut baca 4 sisa babnya sampe kampus, yang untungnya gara2 tugas mingguan masih agak2 inget sehingga tinggal diberi cues yang cukup. Now the problem was, UASnya sendiri lagi-lagi memakai format all-completion atawa soal isian semua, which left little if any cues to sort the heap of (dis)information in my neural network…

.

Revival notes (16/01/06): Ok, that’s it. It’s over. Now move on. Go. Away. *disambit yang mbaca* Iya, cuma segitu aja ^^; I didn’t even remember why I put this unfinished entry on draft, apalagi lanjutan ceritanya =_=; More rants on next (hopefully, completed) entry…>_>

.

Winter Break pt. 1: Home Alone

Tuesday, December 27th, 2005

.
BGM: Paris Match - "Taiyou no Seppun(kisu)"
Mood: *tired* *lazy* *laidback*

.
Tadinya ngira kalo UAS Psikologi Komunikasi bakal lumayan susah, apalagi gara2 malam sebelumnya (atawa kemaren malam) malah nyari ‘tausyiah’ di Ekaristi.org instead of belajar dari fotokopian bab, handout, dan catatan ^^;. Untungnya tumben-tumbenan hari ini waktu sebelum UAS jam 1 bisa diisi dengan lumayan efisien, part of it gara2 klo bawa mobil (supir yg biasa nganterin ke stasiun lg ngurus perpanjangan STNK motor) ke kampus mesti agak pagian kalo mau dapet tempat parkir.
.
Maka jadilah sejam pertama diisi dengan ke perpus nyari2 bahan untuk tugas program Psikologi Pendidikan Lanjutan, kemudian dilanjutkan dengan ke depan Margonda sebentar nyari2 buku bekas dan komik (got +Anima 10, kepincut ama buku sejarah Scotland Yard, dan berpikir2 untuk ngikutin Black Jack), makan siang di Kancil dengan Chicken Drumstick nggak meyakinkan yang banyakan tepung dan lemaknya daripada dagingnya, dan 1 jam terakhir baru dipake belajar (gave the whole new abbreviaton for SKSejam :p).
.
Entah karena bahannya emang ‘gampang’ ato karena sepanjang kuliah sibuk nyatet terus (alat bantu konsentrasi biar gak ngantuk ato ngelamun kemana2), kok rasanya belajarnya gak mumet2 amat ya ^^;. Dan memang ternyata ujiannya juga nggak sesusah2 yang dibayangin sebelumnya meski ada tambahan 25 pilihan ganda (ato jangan2 PG itu yang jadi cue untuk membantu di esai ya? >_>). Keluar setelah 45 menit berlalu, dan setelah beberapa pertimbangan (pilihan pulangnya cuma dua: sebelum jam macet (a.k.a sekarang) atau sesudah jam macet (jam 8an)), akhirnya memutuskan pulang saat itu juga (meski akhirnya kecele karena di tol dalem kota kena macet juga). Geee, how efficient my day today ^^;. Mungkin gara2 sepanjang hari beraktivitas sendirian aja kli, jadinya gak perlu repot mikin orang lain yang (seringkali) maunya gak sesuai ama kemauan sendiri yang (entah kenapa) sering diliat aneh ama orang lain. Oh well, bukan berarti selalu efisien kyk gitu sih, karena kalo udah sampe rumah biasanya tingkat efisiensi mundur 180 derajat >_<.
.
And speaking of alone and home, right now i’m home alone (yes, the title’s so corny and 90′-ish >_>). Yang lain sejak kemarin pada turne ke Bromo via Jogja nggak tau sampe kapan. Pengen ikutan? Ah, nggak juga, since ini orangnya, meski sangat suka melihat dan menikmati alam (baik yang bebas maupun yang nggak bebas), paling males jalan2 jauh (heck, jalan2 dalem kota aja sering suka males ^^;). I’d rather spend my holidays downtown with a stackpile of games, DVD movies, and unlimited internet connection than walk the tree-hugger way out of the vicinity of modern civilization *geek mode: on*. Kadang2 diomelin juga sih gara2 suka males kemana2 itu… but hey, that makes me a low-maintenance guy :p *disambit*. Anyway, got to go; mesti belajar buat UAS Psikologi Konsumen besok yang bahannya hampir 1 textbook sendiri =_=. I’ll doubt this one will be as easy as the previous one, since some of the lecturers are the worst one I’ve ever had in my psychology studies (hell, I won’t even qualify them as ‘psychology lecturers’ >_>). Oh dear, mari berharap mudah-mudahan hari esok lebih baik dari hari ini T_T *wishful thinking*.
.

Winter Break Intro: Why The Heck I’m Doing This All Over Again

Sunday, December 25th, 2005

.
BGM: Paris Match - "Taiyou no Seppun(kisu)"
Mood: *peaceful* *relaxed* *excited*

.
Bener-bener deh, kenapa selalu mood untuk nulis (dan bukan sekedar niat, tapi bener2 termotivasi untuk mengerjakannya) di kala lagi banyak-banyaknya kerjaan yang seharusnya diprioritasin lebih dulu? –; Let’s see, masih mesti overhaul kamar & lemari2 luar (proyek sedari lebaran yg belum selesai2 krn bener2 mesti dikonsep ulang penempatan barang2nya), lalu ada 4 UAS minggu ini yang lumayan berat dan mestinya dipelajarin dari jauh-jauh hari, dan terakhir ada tugas akhir Psikologi Pendidikan Lanjutan untuk membuat rancangan program pendidikan ‘untuk memperbaiki bangsa ini’ (ini tema dari dosennya).
.
A further note on the last, agak sedikit ’senang’ juga sih dengan tugasnya karena dikerjakan secara individual (nggak perlu repot2 berakomodasi dan beradaptasi dengan orang-orang yang ritme kerjanya beda), so I can let my creative juice flowing freely, dan kalo nilainya gak memuaskan juga gak perlu nyalah-nyalahin orang lain >_>. Maka mulailah memilah topik-topik yang bisa didalami, yang akhirnya selalu berujung ke satu hal: menulis. Did this assignment really awake my dormant, yet still passionate inner writer spirit? (klausa yg panjang banget ya ^^;) Entahlah, yang jelas keputusan itu kebetulan berbarengan dengan ditemukannya beberapa artifak tulisan (review buku, makalah kecil-kecilan) dari jaman SMA waktu mengobrak-abrik lemari atas untuk dirapikan (sebenernya lebih banyak yg dibuang sih) kembali. Jesus H. Christ (oh, on a side note, happy birthday! ^^)…the concise words…the coherent thoughts… betapa kreatifnya masa-masa muda itu T_T *disambit* tapi ini bukan narsis lho, karena yg timbul sebenernya malah perasaan malu pada diri sendiri, kok sekarang malah jadi kayak begini yah :p. Ah, betapa menjadi dewasa seringkali mematikan kreativitas kita. Menjadi orang tua dimana tak ada lagi tempat untuk bermimpi di  dunia nyata. So…there you go…my long, winded reason on why I’m going to start writing seriously again. Sebagai langkah pertama (yg mungkin belum cukup drastis), sekarang mau nyoba-nyoba nulis dengan teratur terlebih dahulu, dimulai dengan intro ini. Mesti diakui bukan langkah mudah sih balik ke habitus lama itu, but we’ll see how things turn out. :)
.